Medan | medansumutpos.id
Kita tentu mengapresiasi gagasan Presiden Prabowo terkait Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini merupakan langkah strategis untuk memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang cukup demi mendukung tumbuh kembang, daya tahan tubuh, serta kualitas pendidikan mereka. Secara konsep, MBG adalah kebijakan yang sangat baik dan patut didukung karena menyasar kebutuhan dasar generasi penerus bangsa.
Di Medan Sumatera Utara, pelaksanaan program ini didukung oleh dapur produksi yang berlokasi di kawasan Bromo, Jalan Denai, Kota Medan. Dari lokasi tersebut, makanan diproduksi dan didistribusikan ke sejumlah sekolah dan madrasah sebagai penerima manfaat.
Namun dalam realisasinya, muncul persoalan di lapangan yang menimbulkan kekhawatiran. Nazri salah satu guru madrasah Medan menyampaikan bahwa bubur kacang hijau yang dibagikan kepada siswa terlihat sudah berbuih saat hendak dikonsumsi. Melihat kondisi tersebut, guru tersebut langsung mengingatkan para siswa agar tidak memakan makanan tersebut.
“Ingatkan sama anak-anak, bubur kacangnya sudah berbuih, jangan dimakan lagi,” ujarnya kepada para siswa.
Peristiwa ini menjadi catatan penting bahwa tantangan terbesar program bukan pada gagasan, melainkan pada pelaksanaan dan pengawasannya. Makanan yang berbuih dan diduga tidak layak konsumsi menunjukkan perlunya evaluasi terhadap standar keamanan pangan, proses penyimpanan, pengemasan, hingga distribusi ke sekolah dan madrasah.
Program sebesar MBG tidak cukup hanya mengandalkan niat baik dan visi besar. Diperlukan manajemen dapur yang profesional, kontrol kualitas yang ketat, serta pengawasan yang transparan agar setiap makanan yang dibagikan benar-benar aman dikonsumsi. Anak-anak sebagai penerima manfaat utama adalah kelompok yang harus dilindungi dari risiko kesehatan sekecil apa pun.
Kritik terhadap realisasi bukan berarti menolak programnya. Justru kritik merupakan bentuk kepedulian agar kebijakan yang baik tidak tercoreng oleh lemahnya pengawasan teknis di lapangan. Jika konsepnya sudah baik, maka pelaksanaannya harus lebih baik lagi.
Karena pada akhirnya, yang dipertaruhkan bukan hanya citra program, melainkan keselamatan dan kesehatan generasi penerus bangsa.
( Tim/Red)














