MEDAN | medansumutpos.id
Kisah pilu menyelimuti penemuan jasad Tantawi Eyanoer (sekitar 50 tahun), yang ditemukan meninggal dunia dalam kondisi membusuk di kamar kosnya di lantai 2, tepat di depan Vihara, Jalan Yos Sudarso Lorong 3, Pulau Brayan, Kecamatan Medan Barat.
Korban diketahui hidup seorang diri setelah berpisah dari istrinya. Tragisnya, keberadaan jasad korban baru terungkap setelah seorang kerabat, Minggu (21/6/2026) datang untuk mengantarkan nasi. Namun, setibanya di lokasi, kerabat tersebut justru mencium bau menyengat dari dalam kamar korban.
Curiga dengan kondisi tersebut, warga kemudian melakukan pengecekan dan mendapati korban sudah tidak bernyawa dalam kondisi tubuh yang telah membusuk. Diduga, korban telah meninggal dunia sekitar tiga hari sebelum akhirnya ditemukan.
Informasi yang dihimpun menyebutkan, suasana haru dan kepanikan sempat menyelimuti warga sekitar saat jasad korban ditemukan. Tidak sedikit warga yang merasa prihatin atas kondisi korban yang meninggal dalam kesendirian.
Mengetahui kejadian tersebut, Ketua PIS N, Amrin Nasution, langsung bergerak cepat bersama sejumlah anggotanya. Tanpa ragu, mereka turun tangan mengevakuasi jenazah dari lantai 2 bangunan kos yang cukup sulit dijangkau.
“Ini murni panggilan kemanusiaan. Kita tidak ingin ada saudara kita yang terbengkalai, apalagi dalam kondisi seperti ini,” ujar Amrin Nasution.
Tak hanya membantu proses evakuasi, Amrin bersama timnya juga mengurus pengantaran hingga pemakaman jenazah korban. Aksi solidaritas tersebut pun menuai apresiasi dari warga sekitar yang merasa terbantu di tengah situasi duka.
Peristiwa ini menjadi cermin nyata bahwa kepedulian sosial masih sangat dibutuhkan, terutama bagi mereka yang hidup dalam keterbatasan dan kesendirian. Di balik hiruk pikuk kota, masih ada kisah-kisah sunyi yang luput dari perhatian.
Hingga berita ini diterbitkan, penyebab pasti kematian korban belum diketahui dan diharapkan pihak berwenang dapat melakukan penyelidikan lebih lanjut. (A/Red)














