MEDAN | medansumutpos.id
Di Momen Hari Raya Idul Adha 1447 H atau Idul Qurban, Pembina sekaligus Penasehat Persaudaraan Ormas Islam (POI) Sumatera Utara, H. Rakhmadsyah, SH, menekankan pentingnya mengembalikan makna qurban sebagai gerakan nyata berbagi dan memperkuat persaudaraan umat, bukan sekadar seremoni tahunan.
Menurutnya, Idul Adha harus dimaknai lebih dalam sebagai refleksi spiritual dan sosial, sebagaimana keteladanan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam ketaatan dan pengorbanan.
“Idul Adha jangan hanya dimaknai sebagai ritual tahunan. Qurban adalah panggilan untuk berbagi, merasakan penderitaan sesama, dan menghadirkan kepedulian nyata di tengah masyarakat,” tegas H. Rakhmadsyah.
Qurban dan Nilai Ketakwaan Sosial
Ia menegaskan, esensi qurban bukan terletak pada besar kecilnya hewan yang disembelih, melainkan pada ketulusan dan ketakwaan yang tercermin dalam kepedulian sosial.
“Daging (hewan qurban) dan darahnya itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai adalah ketakwaan kamu…” (QS. Al-Hajj: 37)
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa qurban harus berdampak nyata bagi masyarakat, khususnya bagi mereka yang membutuhkan.
POI Sumut Wujudkan Qurban dalam Aksi Nyata
Sebagai bentuk implementasi nilai tersebut, melalui wadah Persaudaraan Ormas Islam (POI) Sumatera Utara, akan dilaksanakan pemotongan hewan qurban pada Hari Tasyrik ke-3, Jumat (29/5/2026).
Kegiatan ini dipusatkan di Sekretariat Ormas Islam BP FORMI, Jalan Pendidikan Pasar XII, Kecamatan Percut Sei Tuan.
Dalam kesempatan tersebut, H. Rakhmadsyah, SH yang juga merupakan Penasehat Ormas Islam BP FORMI, menyerahkan satu ekor lembu untuk disembelih sebagai bentuk kontribusi nyata dalam memperkuat semangat berbagi.
Daging qurban nantinya akan didistribusikan kepada 14 Ormas Islam serta berbagai elemen masyarakat yang tergabung dalam wadah POI Sumatera Utara.
Ketua Umum BP FORMI: Qurban Harus Menyentuh Umat
Ketua Umum BP FORMI Azhari
turut menyampaikan bahwa Idul Adha harus menjadi momentum kebangkitan kepeduliannya sosial, bukan sekadar kegiatan rutin yang kehilangan makna.
“Qurban harus benar-benar menyentuh umat. Jangan hanya berhenti pada seremoni, tetapi pastikan manfaatnya dirasakan oleh masyarakat, terutama yang membutuhkan,” tegas Azhari.
Ia menilai, melalui wadah POI, semangat kebersamaan lintas ormas Islam dapat menjadi kekuatan besar dalam menjawab persoalan sosial umat.
“POI ini adalah kekuatan persatuan. Jika kita bersatu dalam semangat berbagi, maka qurban tidak hanya menjadi ibadah, tetapi juga solusi sosial bagi umat,” ujarnya.
Pesan Moral H.Rakhmadsyah: Bangun Kebersamaan, Hilangkan Ego
H. Rakhmadsyah kembali menegaskan bahwa wadah POI harus menjadi simbol persatuan umat Islam, bukan sekadar organisasi formal.
“Qurban bukan tentang siapa yang paling besar memberi, tetapi bagaimana semua bisa merasakan. Di POI, kita ingin memastikan tidak ada yang tertinggal dalam kebahagiaan Idul Adha,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh elemen untuk menjadikan momentum ini sebagai penguatan ukhuwah Islamiyah.
“Mari jadikan POI sebagai rumah besar umat. Tempat kita saling berbagi, saling menguatkan, dan mengorbankan ego demi kepentingan bersama. Inilah makna Idul Qurban yang sesungguhnya.”
Idul Adha bukan sekadar perayaan, tetapi panggilan moral untuk membangun keadilan sosial dan memperkuat persaudaraan umat.
Melalui langkah konkret BP FORMI bersama POI Sumatera Utara, serta pesan kuat dari para tokohnya, semangat qurban diharapkan tidak berhenti sebagai ritual tahunan, tetapi terus hidup sebagai gerakan sosial yang membawa manfaat nyata bagi umat.(Red 01)














