Oleh Ust Abdul Latif Khan
Ada pemandangan yang tak pernah siap disaksikan oleh hati manusia.
Pemandangan ketika seseorang yang selama ini mengisi hari-harimu, mengisi rumahmu, mengisi hidupmu, perlahan mulai menghembuskan nafas terakhirnya.
Kau duduk di sampingnya.
Memandang wajah yang selama ini begitu akrab.
Wajah yang pernah tersenyum menyambutmu.
Wajah yang pernah menangis bersamamu.
Wajah yang pernah menguatkanmu saat dunia terasa berat.
Namun kini, wajah itu mulai melemah.
Tatapannya mulai kosong.
Nafasnya mulai tersengal.
Dan kau tahu, waktu perpisahan semakin dekat.
Saat itu, tidak ada harta yang mampu menahan kematian.
Tidak ada jabatan yang bisa membeli tambahan umur.
Tidak ada kekuatan yang mampu menghalangi keputusan Allah.
Yang tersisa hanyalah air mata dan ketundukan.
Allah berfirman:
“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari.”
(QS. Qaf: 19)
Saat Kita Menyadari Betapa Lemahnya Diri
Di hadapan sakaratul maut, manusia belajar tentang hakikat dirinya.
Kita yang selama ini merasa kuat ternyata begitu lemah.
Kita yang selama ini merasa mampu ternyata tidak mampu mempertahankan orang yang paling kita cintai sekalipun.
Kita hanya bisa memegang tangannya.
Membisikkan kalimat tauhid.
Mendoakannya.
Lalu menyaksikan bagaimana ruh itu meninggalkan jasadnya.
Perlahan.
Tenang.
Atau mungkin penuh perjuangan.
Dan ketika nafas terakhir itu berhenti…
Dunia seakan ikut berhenti.
Ruangan menjadi sunyi.
Ada kekosongan yang sulit dijelaskan oleh kata-kata.
Pelajaran yang Terlalu Mahal
Sungguh, kematian orang yang kita cintai adalah pelajaran yang sangat mahal.
Ia mengingatkan bahwa kehidupan ini bukan tempat tinggal abadi.
Bahwa kita semua sedang berjalan menuju tujuan yang sama.
Hari ini kita mengantar orang lain ke liang kubur.
Esok atau lusa, orang lain akan mengantar kita.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Perbanyaklah mengingat pemutus segala kelezatan, yaitu kematian.”
(HR. At-Tirmidzi)
Kematian bukan sekadar akhir perjalanan seseorang.
Ia adalah pesan yang Allah kirim kepada mereka yang masih hidup.
Pesan agar kita segera kembali kepada-Nya.
Pesan agar kita tidak terlalu mencintai dunia.
Pesan agar kita memperbaiki amal sebelum giliran kita tiba.
Air Mata yang Mengajarkan Keikhlasan
Menangislah.
Karena Rasulullah ﷺ juga menangis saat kehilangan orang yang beliau cintai.
Namun jangan biarkan air mata berubah menjadi protes kepada takdir.
Karena orang yang kita cintai bukan milik kita.
Mereka adalah titipan Allah.
Dan ketika Sang Pemilik mengambil titipan-Nya kembali, kita tidak memiliki hak selain berkata:
“Innā lillāhi wa innā ilaihi rāji’ūn.”
Sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nya kami akan kembali.
Kalimat itu bukan sekadar ucapan.
Ia adalah pengakuan bahwa sejak awal kita memang bukan pemilik apa pun.
Perpisahan yang Sesungguhnya Belum Terjadi
Jika orang yang kita cintai wafat dalam iman dan ketaatan, maka perpisahan itu sebenarnya belum terjadi.
Ia hanya berpindah tempat.
Dari dunia menuju alam yang lain.
Dan jika kita menjaga iman, memperbanyak amal saleh, serta meninggal dalam husnul khatimah, maka insya Allah akan ada pertemuan yang lebih indah daripada semua pertemuan di dunia.
Di sana tidak ada sakit.
Tidak ada perpisahan.
Tidak ada kematian.
Tidak ada air mata.
Karena Allah telah menyiapkan negeri keabadian bagi hamba-hamba-Nya yang beriman.
Muhasabah
Hari ini mungkin kita menangisi orang yang kita cintai.
Tetapi suatu hari nanti, orang lain akan menangisi kita.
Hari ini kita menyaksikan nafas terakhir seseorang.
Kelak akan ada yang menyaksikan nafas terakhir kita.
Maka sebelum saat itu tiba, mari bertanya kepada diri sendiri:
Sudahkah kita mempersiapkan bekal?
Sudahkah kita memperbaiki shalat?
Sudahkah kita meminta maaf kepada orang yang pernah kita sakiti?
Sudahkah kita bertaubat dari dosa-dosa yang masih kita simpan?
Karena kematian tidak pernah menunggu kesiapan manusia.
Ia hanya menunggu perintah dari Rabb semesta alam.
Dan ketika perintah itu datang, tidak ada satu jiwa pun yang mampu menolaknya.
Ya Allah…
Jika suatu hari Engkau memanggil kami pulang, maka panggillah dalam keadaan Engkau ridha kepada kami.
Jadikan nafas terakhir kami sebagai awal kebahagiaan yang tidak pernah berakhir.
Aamiin.













