medansumutpos.id | Medan.
Koordinator PMPHI ; Gandi Parapat menilai GAMKI Diskriminasikan Gubsu, Edy Rahmayadi.
Pembukaan Rakernas GAMKI yang dihadiri oleh Presiden Jokowi, di Lapangan Benteng, Sabtu (19/8) lalu. Banyak menuai kritikan dan di lema di masyarakat.
“Kita tetap beri tempat kepada Gubsu di acara tersebut, kita tempatkan di VVIP juga, karena kita anggap beliau orang tua kita,” ujar panitia.
“Jadi kalau ada yang bilang kemaruk terhadap walikota kita menepis pernyataan tersebut ya. Karena ini kan kembali ke internal kami, siapa yang diberi space untuk kata sambutan,” katanya.
Sementara itu Koordinator Pusat Monitoring Politik dan Hukum Indonesia (PMPHI) Gandi Parapat menilai Gerakan Muda Kristen Indonesia (GAMKI) mendiskriminasi Gubernur Sumatera Utara (Gubsu), Edy Rahmayadi kerena tidak diberi kesempatan untuk menyampaikan kata sambutan pada acara pembukaan Rakernas GAMKI yang dihadiri Presiden Jokowi, di Lapangan Benteng, Sabtu (19/8) lalu.
“Perlakuan yang tidak semestinya dialami Gubsu Edy Rahmayadi saat mendampingi kunjungan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo di Sumut pada acara Pembukaan Rakernas GAMKI tersebut,” kata Gandi
Dia mengatakan, peristiwa ini sangat memalukan, karena menimbulkan kesan secara vulgar terjadinya hegemoni kekuasaan dikalangan keluarga Presiden, sampai-sampai urusan kata sambutan saja harus mereka kuasai dan menunjukkan nepotisme yang begitu kuat.
“Dengan tidak diberi kesempatan kepada Gubsu untuk menyampaikan sambutan, sebenarnya yang rugi adalah peserta Rakernas, karena seyogianya para peserta bisa memperoleh gambaran tentang kondisi Sumut, sehingga dapat dijadikan bahan referensi untuk merumuskan program dan kebijakan organisasi GAMKI, apalagi Sumatera Utara dikenal sebagai salah satu basis GAMKI di Indonesia,” ungkapnya.
Dengan peristiwa itu, Gandi sangat menyesalkan protokoler kepresidenan yang tidak mampu memahami etika keprotokolan dan sangat disayangkan hal itu justru menimbulkan citra buruk bagi Jokowi dan Bobby yang terkesan kemaruk.
“Kemaruk tampil bersama Presiden, padahal Jokowi adalah mertuanya sendiri,” tutup Gandi. (RED)














