Medan | medansumutpos.id
Bencana seakan tidak memberi jeda bagi Sumatera Utara. Hujan deras yang mengguyur sejak Selasa hingga Kamis (27/11/2025) memicu banjir dan longsor di berbagai wilayah. Rumah-rumah porak poranda, warga mengungsi, dan duka kembali menyelimuti tanah ini.
Data terbaru yang dirilis BPBD bersama aparat gabungan mencatat 34 orang meninggal dunia dan 52 warga masih hilang. Ratusan lainnya mengalami luka-luka, sementara lebih dari 175 warga masuk kategori terdampak langsung. Proses pencarian korban hilang masih terus berlangsung di lokasi longsor terdalam.
Medan dan Deli Serdang Dikepung Banjir
Di Kota Medan, banjir melumpuhkan sejumlah titik penting. Sungai Deli dan Sungai Babura meluap, merendam pemukiman warga di:
-Medan Maimun
-Medan Sunggal
-Medan Johor
-Medan Labuhan
-Medan Belawan
Jalan utama menuju Kota Medan dan perkantoran juga tak luput dari genangan. Beberapa kendaraan dilaporkan terjebak dan sebagian warga dievakuasi menggunakan perahu karet serta truk aparat.
Di Deli Serdang, genangan air mencapai pinggang orang dewasa terutama di kawasan Lubuk Pakam, Batang Kuis, hingga akses menuju Bandara Internasional Kualanamu yang sempat terputus.
Listrik padam, sekolah dan rumah ibadah terendam, sementara wilayah industri turut terhenti akibat pabrik di Kawasan Industri dan pergudangan terendam banjir.
Sebaran Dampak Bencana di Sumut
Dalam sepekan terakhir, bencana melanda 12 kabupaten/kota, di antaranya:
-Tapanuli Selatan (korban terbanyak)
-Mandailing Natal
-Sibolga
-Langkat
-Padangsidimpuan
-Nias Selatan
-Tapanuli Tengah
-Tapanuli Utara
dan sejumlah wilayah lainnya masih berstatus darurat.
Ratusan fasilitas publik, sekolah, masjid, jembatan, hingga lahan pertanian dilaporkan mengalami kerusakan berat. Ribuan warga kini bertahan di tenda darurat dengan logistik terbatas.
Seruan Kemanusiaan dari BP FORMI
Di tengah kepanikan dan air mata, suara penguatan datang dari Ketua Umum Barisan Persaudaraan Forum Muslimin Indonesia (BP FORMI) Azhari.
Dalam pesannya, Azhari mengingatkan masyarakat untuk menatap musibah ini dengan keimanan dan kesadaran kemanusiaan.
“Musibah ini ujian dari Allah SWT. Kita sebagai umat beriman wajib bersabar, berserah diri, dan meningkatkan ketakwaan kepada-Nya. Ini bukan waktu saling menyalahkan, tetapi waktu kita saling menguatkan,” ucapnya.
Azhari juga mengajak organisasi keagamaan dan masyarakat luas untuk turun tangan membantu.
“Setiap bantuan makanan, selimut, tenaga relawan, hingga doa sangat berarti bagi saudara-saudara kita yang kehilangan rumah dan anggota keluarga.” tuturnya.
Di Tengah Lumpur, Masih Ada Harapan
Di sejumlah lokasi pengungsian, anak-anak tidur beralaskan terpal, sementara orang tua menatap langit malam dengan kekhawatiran.
Namun di balik kesedihan ini, ada satu hal yang tidak tersapu banjir: solidaritas.
Masyarakat saling bantu, relawan berdatangan, dan aparat masih berjibaku di lapangan.
Sumatera Utara bukan hanya sedang diuji, tetapi sedang dibentuk menjadi daerah yang lebih kuat dan lebih manusiawi.
Semoga bukan hanya pulih, tetapi bangkit lebih tegar dan lebih peduli.
(Red/MSP-01)
















