Secuil Catatan Perjalanan Azhari, di Jakarta dan Tanggerang ” Denyut Ibukota “
Jakarta, (medansumutpos.id)
Langit Jakarta pagi itu belum sepenuhnya cerah saat saya Azhari, Penulis melangkahkan kaki menuju Stasiun Kereta Listrik/MRT Juanda.
Di tengah hiruk-pikuk ibu kota, saya lebih memilih moda transportasi yang kini menjadi denyut nadi mobilitas warga, Kereta Rel Listrik (KRL) dan MRT. Bukan sekadar perjalanan biasa, ini adalah pengalaman menyusuri urat kota dengan ritme yang berbeda: cepat, teratur, dan terasa nyaman.
Dari titik awal di Jakarta, saya pun menaiki MRT yang meluncur halus, nyaris tanpa guncangan.
Di dalam gerbong, suasana terasa bersih dan tertib.
Penumpang duduk rapi, sebagian tenggelam dalam layar ponsel, sebagian lain menikmati perjalanan dalam diam.
Perpindahan pertama pun tiba. Ia turun, mengikuti arus penumpang menuju jalur KRL yang akan membawanya lebih jauh ke arah barat, menuju Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten.
Perjalanan ini bukan tanpa tantangan. Beberapa kali ia harus berpindah stasiun, menyusuri lorong-lorong penghubung, naik turun tangga, hingga memastikan tidak salah jalur. Sedikitnya lima hingga enam stasiun ia lewati, masing-masing dengan karakter dan dinamika sendiri.
Namun justru di situlah letak pengalaman menariknya. Setiap perpindahan menjadi potret kecil kehidupan kota yang terus bergerak.
Meski harus berganti kereta beberapa kali, kenyamanan tetap terasa. Pendingin udara yang sejuk, jadwal yang relatif tepat waktu, serta fasilitas yang semakin membaik menjadikan perjalanan ini jauh dari kata melelahkan.
Bahkan, di tengah padatnya kota Jakarta, saya justru menemukan ketenangan dalam perjalanan yang tertata.
Setibanya di Tangerang, suasana jadi terasa sedikit berbeda. Lebih tenang, lebih bersahaja. Saya yang datang memenuhi janji dari rekan sejawat di Organisasi Wartawan Sekber Wartawan Indonesia (SWI) Kabupaten Tangerang, Karjoni.
Pertemuan itu bukan sekadar agenda silaturahmi biasa, tetapi juga menjadi ruang diskusi hangat tentang dinamika pers, peran wartawan di tengah arus informasi, serta komitmen menjaga integritas jurnalistik.
Malam itu, saya pun menginap di kediaman Karjoni rekan yang belum lama mengenal Namun Obrolan mengalir tanpa sekat tentang organisasi, pengalaman lapangan, hingga harapan besar terhadap masa depan SWI sebagai wadah profesional wartawan.
Keakraban terasa begitu kuat, seolah tak ada tampak jarak antara wilayah dan daerah, antara rekan kerja dan saudara seperjuangan.
Keesokan harinya, perjalanan pun berlanjut.
Namun kali ini bukan lagi soal transportasi, melainkan perjalanan hati. Saya menyempatkan diri mengunjungi keluarga, sosok yang ia panggil dengan penuh hormat dan kasih, Oppung. Dalam tradisi orang Mandailing, Oppung bukan sekadar nenek, melainkan simbol kasih sayang, kebijaksanaan, dan akar keluarga yang tak tergantikan.
Di rumah sederhana itu, waktu seolah berjalan lebih lambat. Candaan ringan, cerita masa lalu, dan tatapan penuh rindu menjadi pelengkap pertemuan singkat namun bermakna. Saya menyadari, di balik perjalanan jauh dan kesibukan yang padat, ada nilai yang tak boleh dilupakan: keluarga.
Menjelang kembali ke Jakarta di pagi Rabu 22 Juli 2026, saya puni kembali menaiki Kereta Rel Listrik (KRL). Sebelum melanjutkan perjalanan ke pusat ibu kota, ia menyempatkan diri singgah di kawasan Tanah Abang. Di kawasan yang dikenal sebagai salah satu pusat perdagangan tekstil terbesar di Asia Tenggara itu, saya yang berjalan santai menyusuri lorong-lorong pertokoan, sekadar melihat aktivitas para pedagang dan ramainya transaksi yang tak pernah berhenti.
Bagi Penulis, Tanah Abang bukan hanya pasar, tetapi juga simbol denyut bisnis dan perekonomian rakyat yang terus hidup, tempat ribuan pelaku usaha menggantungkan harapan dan rezekinya setiap hari.Usai dari Tanah Abang, perjalanan dilanjutkan menuju kawasan Monumen Nasional (Monas).
Di tengah terik matahari Jakarta, ia berfoto sederhana mengabadikan momen sebagai penutup perjalanan di ibu kota. Monas, sebagai simbol perjuangan bangsa, seolah menjadi refleksi kecil atas perjalanan yang telah ia lalui tentang semangat, ketekunan, dan tujuan.
Menjelang sore, sesuai dengan jadwal keberangkatan kepulangan sesuai Tiket Online yang telah di pesankan terlebih dahulu oleh salah seorang penasehat Ormas BP FORMI dan juga Bendahara DPW SWI Sumut, Bapak Igo Ilham yang telah banyak membantu Penulis dalam rangkaian perjalanan ini disamping juga Penasehat DPW SWI Sumut lainnya Bapak Dahnil Ginting SE dan Bapak H.Rakhmasyah, SH, namun tak kalah yang terpenting adalah peran seorang sosok istri tercinta, Evi Meriyani Tarigan Silangit saya kerap memanggilnya dengan sebutan sayank, yang selalu memberikan suport dan dukungan penuh serta Do’a nya selalu menyertai di setiap langkah Penulis
sekitar pukul 18.00 WIB, Saya pun melanjutkan perjalanan menuju Stasiun Pulogebang menggunakan transportasi umum TransJakarta.
Di dalam bus, ia kembali menyaksikan wajah Jakarta dari sudut yang berbeda dinamis, padat, namun tetap bergerak maju. Perjalanan itu menjadi etape terakhir sebelum ia benar-benar meninggalkan hiruk-pikuk ibu kota untuk kembali menuju Medan.
Dua hari di Tangerang dan Jakarta mungkin terasa singkat, namun semuanya meninggalkan kesan yang mendalam. Dari perjalanan nyaman menggunakan KRL dan MRT, singgah di Tanah Abang yang menjadi jantung perdagangan ibu kota, hangatnya sambutan Karjoni sebagai sahabat seperjuangan di SWI, pelukan kasih Oppung, hingga momen sederhana di Monas, seluruhnya menyatu menjadi rangkaian kisah yang utuh.
Dan ketika saya bersiap kembali ke Medan, ia memahami bahwa setiap perjalanan selalu memiliki cerita, dan setiap cerita selalu menyimpan makna yang akan dikenang sepanjang waktu. (***)













